
Sangatta – Di tengah hiruk pikuk lalu lintas Sangatta, deru mesin motor roda dua dan mobil patroli Polisi Lalu Lintas (Polantas) terdengar menyusuri jalan raya.
Dengan seragam lengkap yang khas, mereka bergerak menyusuri jalan utama Sangatta, sebuah kota yang tak pernah sepi dari aktivitas kendaraan.
Titik rawan menjadi sasaran utama patroli mereka, sebab belum lama ini terjadi beberapa kasus yang menggemparkan warga.
Mulai dari kasus perampokan BRIlink hingga balapan liar yang melibatkan remaja tanggung, berujung pada hilangnya nyawa pengendara.
Di kawasan tertentu, terutama persimpangan tanpa lampu dan jalan poros yang ramai dilalui truk besar, patroli ini menjadi pemandangan rutin.
Bukan hanya itu, kawasan perbankan hingga toko emas pun disambangi petugas sepatu putih hampir selutut itu.
Suara sirene sesekali berbunyi, bukan untuk menegur keras, melainkan sekadar mengingatkan pengguna jalan agar lebih tertib.
“Di titik ini sering terjadi kecelakaan kecil, terutama pengendara motor yang terburu-buru,” ujar seorang petugas sambil menunjuk simpang empat dekat Pasar Induk Sangatta.
Ia bersama rekannya tak hanya berkeliling, tetapi juga memberi imbauan langsung kepada pengendara.
Beberapa warga yang ditemui mengaku kehadiran Polantas membuat mereka lebih tenang.
“Kalau ada polisi patroli, kita merasa lebih aman. Orang-orang juga jadi lebih tertib bawa motor,” kata Lilis, seorang pedagang yang setiap hari melintas jalan poros menuju pasar.
Bagi para petugas, tugas patroli bukan sekadar rutinitas. Mereka paham, setiap langkah kecil di jalan raya bisa menyelamatkan nyawa.
Mulai dari menegur pengendara yang lupa pakai helm, hingga mengatur arus lalu lintas saat jam sibuk. Semua dilakukan demi terciptanya rasa aman dan nyaman bagi masyarakat Sangatta.
Patroli di titik rawan ini akan terus digencarkan, terutama di kawasan dengan intensitas kendaraan tinggi.
Di balik peluit yang ditiup dan tangan yang memberi isyarat, tersimpan sebuah komitmen: menjaga keselamatan bersama di jalan raya.